SANAD GURU IMAM
SYAFI’I DAN ULAMA-ULAMA SYAFI’IAH
A.
Sanad Imam Syafi’i
Sanad hadits para ulama yang sampai kepada Rasulullah
Shallallabhu Alaihi Wasallam amatlah banyak jumlahnya, karena mereka hanya
meriwayat matan hadits. Berbeda dengan sanad keilmuan fiqih, karena membutuhkan
waktu lama untuk mempelajarinya. Nah, kali ini kita akan mengupas mengenai
sanad fiqih Imam As Syafi’i Radhiyallahu ‘Anhu.
Syeikh Syihab Ad Din Ahmad bin Ahmad bin Salamah Al Qalyubi
(1069 H), menyebutkan salah satu rangkaian sanad dalam fiqih ulama mujtahid
dari Quraisy ini (lihat, Hasyiyatani Qalyubi wa Umairah, hal. 9, vol. 1) dengan
rangkaian sanad berikut:
Tidak ada salahnya, jika kita membahas para ulama yang keilmuannya
menyambungkan fiqih Imam Syafi’i hingga Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam
satu-persatu.
1. Muslim bin Khalid Az
Zanji (180 H)
Beliau
adalah imam, mufti dan faqih Makkah. Beliaulah yang menyarankan Imam As Syafi’i
untuk mendalami fiqih. Imam As Syafi’i saat hendak keluar untuk belajar adab
dan nahwu, Muslim bin Khalid menemui dan bertanya mengenai asal-usul beliau.
Setelah tahu bahwa As Syafi’i termasuk kabilah Abdu Al Manaf, Muslim bin Khalid
menyarankan agar beliau belajar fiqih. Dan kepada beliau, akhirnya Imam As
Syafi’i menimba ilmu. Muslim bin Khalid jugalah yang memerintahkan Imam As
Syafi’i untuk berfatwa, padahal saat itu beliau masih berumur 15 tahun (lihat,
muqadimah Al Majmu Syarh Al Muhadzdzab, hal. 13 dan 17, vol.1).
2. Muhammad bin Juraij
(150 H)
Penduduk
Makkah mengatakan bahwa guru Muslim bin Khalid ini, ajaran shalatnya memiliki
sanad hingga Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Imam Malik sendiri
mengatakan bahwa Ibnu Juraij adalah ahli qiyam. Abdu Ar Razak juga menyebutkan
bahwa tidak ada orang yang shalatnya lebih baik dari Ibnu Juraij. Disamping
memiliki kelebihan dalam hal ibadah beliau juga dinilai sebagai orang yang
pertama menulis kitab. Keilmuan beliau sendiri tidak diragukan, sebab itulah
para ulama menjuluki beliau sebagai wadah (au’iyah) ilmu (lihat, Taqrib At
Tahdzib, hal. 520, vol. 1).
3. Atha’ bin Abi Rabah
(114, 115, 117 H)
Atha’ bin Abi Rabah
adalah salah satu dari dua ulama yang diizinkan berfatwa di Makkah saat itu,
selain Mujahid. Selain seorang faqih beliau juga dikenal sebagai ulama yang
memiliki banyak periwayatan hadits. Beliau juga bertemu dengan 200 sahabat.
Bahkan, yang menggantikan posisi Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu sebagi mufti di
Makkah adalah Atha’, yang juga murid beliau. (Lihat, Tahdzib At Tahdzib, hal.
119-203, vol.7)
4. Ibnu Abbas (68 H)
Ibnu
Abbas adalah seorang faqih dari kalangan sahabat. Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wasallam sendiri pernah mendoakan, agar beliau difaqihkan dalam dien. Ibnu
Abbas juga sering mendampingi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sejak
kecilnya, karena bibi beliau Maimunah adalah istri beliau. Tak heran, beliau
termasuk sahabat yang banyak meriwayatkan hadits.
B.
Ulama-Ulama Mazhab Imam
Syafi’i
Para ulama’ yang
bermazhab Syafi'i, mulai dari pengasasnya yaitu al-Imam al-Muhaddits
al-Mujtahid Muhammad bin Idris asy-Syafi'i rahimahullah hingga para ulama'
Syafi'i abad ini, supaya kita dapat mengenali para ulama' yang bermazhab
Syafi'i dan jangan lagi ada orang memandang remeh dan rendah terhadap Mazhab
Syafi'i.
Kurun Abad Ke-Tiga
Hijriyah
- al-Imam
Muhammad bin Idris asy-Syafi'i (w. 204 H)
Nama asli dari al-Imam Syafi’I adalah Muhammad
bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin as-Saib bin Ubaid bin Abdi Yazid
bin Hasyim bin al-Muththalib bin Abdi Manaf. Gelar beliau adalah Abu Abdillah.
Orang arab biasanya jika menulis nama
mendahulukan gelar daripada nama, sehingga disebut Abu Abdillah Muhammad bin
Idris. Belai lahir di Gaza, bagian selatan Palestina, pada tahun 150 Hijiriyah,
pertengahan abad kedua hijriyah. Sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa beliau
lahir di Asqalan, tatapi kedua perkataan itu tidaklah berbeda karena Gaza
dahulunya adalah daerah Asqalan. Kampung halaman Imam Syafi’I bukan di Gaza
(Palestina) tapi di Mekkah (Hijaz). Kedua orang tua beliau datang ke Gaza untuk
sebuah keperluan dan tidak lama beliau lahir di situ.
Suatu ketika ayah Imam Syafi’i wafat di Gaza
dan beliau menjadi yatim, diasuh oleh Ibunya. Sejarah telah mencatat ada 2
peristiwa penting sekitar kelahiran Imam Syafi’I rahimahullah.
a.
Sewaktu Imam
Syafi’imasih dalam kandungan, ibunya bermimpi bahwa sebuah bintang telah keluar
dari perutnya dan terus naik membubung tinggi, kemudian bintang itu berhamburan
dan berserak menerangi daerah-daerah disekelilingnya. Ahli mimpi memaknai mimpi
itu bahwa ia akan melahirkan seorang putra yang ilmunya meliputi seluruh jagat.
Sekarang telah menjadi
kenyataan bahwa ilmu Imam Syafi’i memang memenuhi dunia, bukan saja di tanah
Arab, timur tengah dan Afrikan, tetapi juga sampai kearah timur jauh, ke
Indonesia, Malaysia, Thailand, Piliphina dan lainnya.
b.
Sepanjang sejarah pada
hari dimana Imam Syafi’I dilahirkan, meninggal dua orang Ulama Besar, seorang
di Baghdad (Irak) yaitu al-Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit (Pengasas Madzhab
Hanafi) dan seorang Ulama lagi di Mekkah yaitu al-Imam Ibnu Jurej al-Makky,
Mufti Hijaz disaat itu.
Seorang ahli firasat berkata, ini merupakan
pertanda bahwa anak yang lahir ini akan menggantikan yang meninggal dalam “ilmu
dan kecerdasan”nya. Memang firasat ini akhirnya terbukti dalam kenyataan.
Nasab Imam Syafi’I adalah Muhammad bin Idris
bin Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin as-Saib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim
bin al-Muththalib bin Abdi Manaf bin Qushay. Abdul Manaf bin Qusyai yang
menjadi kakek ke-9 Imam Syafi’I adalah Abdul Manaf bin Qushai yang juga menjadi
kakek ke-4 Nabi Muhammad SAW.
Sebagaimana telah diketahui, bahwa silsilah
Nabi Muhammad adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin
Abdi Manaf bin Qusyai bin Kilab bin Marah bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin
Fihir bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Quzaiman bin Mudrikah bin Ilyas, bin
Ma’ad bin Adnan sampai kepada Nabi Ismail as dan Nabi Ibrahim as.
Maka
jelaslah bahwa silsilah Imam Syafi’i bertemu dengan silsilah Nabi Muhammad SAW.
Adapun dari pihak Ibu, Fatimah binti Abdmullah
bin Hasan bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Ibu Imam Syafi’i adalah cucu dari
cucu Sayyidina Ali bin Abi Thalib, menantu, sahabat Nabi dan Khalifah ke-4 yang
terkenal. Sepanjang sejarah telah ditemukan bahwa Said bin Abu Yazid, kakek
Imam Syafi’I ke-5 adalah sahabat Nabi Muhammad SAW. Jadi baik dilihat baik dari
segi nasab maupun dari segi keturunan ilmu, maka Imam Syafi’i Rahimahullah
adalah kerabat Nabi Muhammad SAW.
elar “asy-Syafi’i” dari Imam Syafi’i
rahimahullah diambil dari kakek ke-4 beliau yaitu Syafi’ib in Saib.
-al-Imam al-Humaidi (w. 219 H)
Nama lengkap beliau adalah ‘Abdullah bin Zuber
bin ‘Isa, Abu Bakar Al-Humaidi. Beliau adalah juga murid langsung dari Imam
Syafi’i. Beliaulah yang membawa dan mengembangkan Mazhab Syafi’I ketika di
Makkah, sehingga beliau diangkat menjadi Mufti Makkah.
Inilah di antara 11 orang murid-murid langsung
dari Imam Syafi’i yang kemudian menjadi Ulama’ Besar dan tetap teguh memegang
Mazhab Syafi’i. Maka dengan perantaraan beliau-beliau inilah Mazhab Syafi’i
tersiar luas ke pelusuk-pelusuk dunia Islam terutama ke bahagian Timur dari
Hijaz, iaitu Iraq, ke Khurasan, ke Maawara An-Nahr, ke Azerbaiyan, ke
Tabristan, juga ke Sind, ke Afghanistan, ke India, ke Yaman dan terus ke
Hadhramaut, ke Pakistan, India dan Indonesia.
Beliau-beliau ini menyiarkan Mazhab Syafi’i dengan
lisan dan tulisan. Selain dari itu ada dua orang murid Imam Syafi’i yaitu Imam
Ahmad bin Hanbal (wafat 241H) yang kemudian ternyata membentuk satu aliran
dalam fiqih yang bernama Mazhab Hanbali. Yang kedua Syeikh Muhammad bin ‘Abdul
Hakam , seorang Ulama’ murid langsung dari Imam Syafi’i yang ilmunya tidak
kalah dari Al-Buwaiti. Beliau ini pada akhir umurnya berpindah ke Mazhab Maliki
dan wafat dalam tahun 268H. di Mesir.
Ulama’-ulama’, murid yang langsung dari Imam
Syafi’i ini boleh dinamakan Ulama’-ulama’ Syafi’iyah, iaitu Ulama’-ulama’
Syafi’iyah tingkatan pertama. Ada tingkatan kedua, iaitu Ulama’- ulama’
Syafi’iyah yang wafat dalam abad ketiga juga, tetapi tidak belajar kepada Imam
Syafi’i sendiri, melainkan kepada murid-murid Imam Syafi’i . Ulama’-ulama’ itu
adalah : Ahmad bin Syayyar Al-Marwazi, Imam Abu Ja’far At-Tirmizi, Abu Hatim
Ar-Razi, Imam Bukhari, Al-Junaid Baghdad, Ad-Darimi, Imam Abu Daud dan
lain-lain.
Sebelas murid-murid langsung dari Imam Syafi'i
adalah Imam Ar-Rabi’ bin Sulaiman Al-Muradi, Al-Buwaiti, Al-Muzani, Harmalah
At-Tujibi, Az-Za’farani, Al-Karabisi, At-Tujibi, Muhammad bin Syafi’i, Ishaq
bin Rahuyah dan Al-Humaidi Wafat di Makkah pada tahun 219H.
- al-Imam al-Buwaiti (w. 231 H)
Nama Lengkap beliau adalah Abu Ya’kub bin Yusuf
bin Yahya al-Buwaiti, lahir di desa Buwaiti (Mesir) wafat 231 Hijriyah. Beliau
adalah murid langsung dari Imam Syafi’I rahimahullah, sederat dengan ar-Rabi’i
bin Sulaiman al-Muradi.
Imam Syafi’I berkata ; “Tidak seorangpun yang
lebih berhak atas kedudukanku melebihi
dari Yusuf bin Yahya al-Buwaiti “ dan Imam Syafi’I berwasiat jika beliau wafat
maka yang akan menggantikan kedudukan beliau mengajar adalah al-Imam Buwaiti
ini.
Beliau menggantikan Imam Syafi’I berpuluhan
tahun dan pada akhir umur hidup beliau ditangkap kerena persoalan “fitnah
Qur’an” yaitu tentang apakah al-Qur’an itu makhluk atau tidak, yang digerakkan
oleh kaum Muktazilah. Akhirnya al-Imam Buwaiti ditangkap oleh Khalifah yang pro
terhadap paham Muktazilah, lalu dibawa dengan ikatan rantai ditubuhnya ke
Baghdad. Beliau wafat dipenjara pada tahun 231 Hijriyah. Beliau syahid karena
mempertahankan kepercayaan dan i’tiqad beliau yaitu I’tiqad kaum Ahlus Sunnah
wal Jamaah yang mempercayai bahwa al-Qur’an itu adalah kalamullah yang Qadim,
bukan “ciptaan Allah” (Makhluk).
- al-Imam Ishaq bin Rahuyah (w. 238 H)
Nama lengkap beliau adalah Ishaq bin Ibrahim
bin Makhlad bin Ibrahim yang terkenal dengan nama Ibnu Rahuyah. Lahir tahun 166
H. wafat tahun 238H. Beliau belajar fiqih kepada Imam Syafi’i yang terkenal.
Bukan saja dalam ilmu fiqih tetapi juga dalam ilmu Hadits. Imam Bukhari,
Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Ahmad bin Hanbal, banyak mengambil hadits kepada
Ishaq bin Rahuyah ini. Imam Nasa’i mengatakan bahawa Ibnu Rahuyah adalah
“Tsiqqah”, yaitu “dipercayai”.
- al-Imam Muhammad bin Syafi'i (w. 240 H)
Muhammad bin Syafi’i, gelar Abu Utsman
Al-Qadi. Beliau adalah anak yang tertua dari Imam Syafi’i. Pada akhir usia
beliau, menjabat kedudukan Qadi di Jazirah dan wafat di situ tahun 240H.
- al-Imam al-Karabisi (w. 245 H)
Nama lengkap beliau adalah Imam Abu ‘Ali,
Husein bin ‘Ali Al-Karabisi. Beliau juga seorang murid langsung dari Imam
Syafi’i sesudah terlebih dahulu menganut ajaran Imam Abu Hanifah (Hanafi) dan
kemudian masuk dalam Mazhab Syafi’i, beliau adalah menjadi tiang tengah dalam
menegakkan fatwa dan aliran-aliran Imam Syafi’i.
- al-Imam at-Tujibi (w. 250H)
Ahmad bin Yahya bin Wazir bin Sulaiman
At-Tujibi. Beliau adalah seorang Ulama’ yang belajar langsung dalam ilmu bfiqih
kepada Imam Syafi’i. Meninggal dan bermaqam di Mesir.
- al-Imam al-Muzani (w. 264 H)
Nama lengkap Imam
Muzanni adalah Abu Ibrahim Ismail Bin Yahya Al-Muzanni. Ia lahir di Mesir pada tahun 175 H, saat awal
pemerintahan Abasiah, yang dipimpin oleh Abu Ja’far Harun Al-Rasyid. Ketika itu
stabilitas pemerintahan Harun cukup mapan sehingga tradisi keilmuan sangat
hidup. Berbagai kelompok kajian keilmuan berkembang sangat bagus, baik kajian
keilmuan Islam atau ilmu eksakta. Bahkan ketika itu sudah ada usaha
penerjemahan ilmu-ilmu Islam ke dalam bahasa lain.
Beberapa ulama besar
hidup dalam masa ini seperti Imam Malik yang sudah memiliki kitab kumpulan
Hadits yang diberi nama Al-Muwatha’. Demikian pula para imam di bidang nahwu
juga hidup pada jaman ini, sehingga Muzanni dengan mudah belajar kepada mereka.
Kekhalifahan Harun
juga sangat memperhatikan kehidupan para ulama dan cendekiawan, sehingga mereka
bisa mengembangkan ilmunya dalam berbagai halaqah ilmu.
Di halaqah inilah
Muzanni belajar. Ia selalu memanfaatkan kesempatan untuk menghadiri halaqah
ilmiah para ulama di kotanya. Karenanya tak salah jika ia termasuk salah satu
pelajar yang dikenal sangat rajin menuntut ilmu. Ibnu Usman Al-Maki menuturkan
bahwa tidak ada seorang pelajar yang ia temui bersungguh-sungguh dalam mencari
ilmu sebagaimana Al-Muzanni.
Diantara guru
Muzanni yang tersohor yaitu Imam Syafi’i yang usianya terpaut 25 tahun lebih tua darinya. Dari pendiri
madzhab Syafi’i inilah Al-Muzanni banyak mendapatkan ilmu dan hikmah. Dalam
sebuah riwayat disebutkan bahwa ahlak Imam Muzanni sama dengan ahlaknya Imam
Syafi’i. Ia juga belajar kepada Nu’aim
bin Hammad.
Meski Al-Muzanni
mendalami madzhab Syafi’i, namun ia juga sering membaca fatwa-fatwa Abu
Hanifah. Dalam beberapa masalah ia cenderung sama dengan madzhab Hanafi. Dalam satu riwayat disebutkan, “Ketika Bakkar
bin Qutaiybah datang ke Mesir dan menemui hakim yang bermazhab Hanafi,
tiba-tiba ia bertemu dengan al-Muzani. Lalu kawan Bakkar menanyakan sesuatu
kepada al-Muzani. Ia berkata, “Dalam beberapa Hadist disebutkan tentang
pengharaman dan penghalalan minuman keras dari anggur. Kenapa terjadi
kontradiksi seperti ini?” Al-Muzani menjawab, “Tidak ada seorang pun ulama yang
mengharamkan minuman keras di masa Jahiliyah, karena memang dulunya masih
dihalalkan. Bahkan, pada awal-awal Islam pun masih dihalalkan. Minuman keras
itu baru diharamkan setelah akidah umat Islam semakin kuat. Konteks sosial
itulah yang memperkuat pengharaman yang ditegaskan dalam hadis-hadis Nabi Saw.”
Jawaban al-Muzani ini terasa sangat pas di pikiran Bakkar.
Al-Muzanni memiliki
banyak murid yang menjadi ulama besar pada masanya. Diantara yaitu, Imam Abi
Ja’far at-Thohawi yang kemudian pindah ke madzhab Hanafih setelah melihat Imam
Muzanni sering membaca karya ulama Hanafi. Kemudian juga Syaikh Basyir
Zakariyah ibnu Yahya as-Saji, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hawsha’, Ibnu Abi
Hatim. Selain itu banyak para ulama
besar dari Khurasan, Irak, dan Syam yang namanya meroket di bawah bimbingan
Al-Muzani. Imam Muzanni wafat pada
tahun 264 H di Mesir.
- al-Imam Harmalah at-Tujibi (w. 243 H)
Nama lengkapnya Harmalah bin Yahya Abdullah
At-Tujibi, murid Imam Syafi’I Rahimahullah. Beliau adalah ulama besar penegak
madzhab Syafi’i yang menyusun kitab-kitab Imam Syafi’i. Didalam madzhab Syafi’I
terkenal kitab Harmalah yaitu kitab karangan Imam Syafi’I rahimahullah yang
disusun oleh murid beliau yaitu Harmalah bin Yahya.
Selain ahli Fiqh Syafiyyah yang terkenal,
beliau juga juga ahli Hadits yang menghafal hadits-hadits Nabi. Khabarnya
beliau telah menghafal 10.000 hadits Nabi. Diantara ahli hadits yang menjadi
murid dari Harmalah, diantaranya adalah Imam Muslim, Imam Ibnu Qutaibah, Imam
Hasan bin Sofyan dan lain-lain.
- al-Imam Bukhari (w. 256 H)
Nama lengkap beliau Muhammad bin Ismail bin
Ibrahim bin Mughitah bin Bardizbah Al-Jufri Al-Bukhari. Lahir tahun 194 H. di
Bukhara Asia Tengah. Sejak kecil beliau sudah menghafal Al-Qur’an di luar
kepala dan sangat menyukai mencari dan mendengar Hadits-hadits Nabi. Kemudian
selama 16 tahun beliau menyusun dan mengarang kitab sahihnya yang berjudul
kitab “Sahih Al-Bukhari”.
Beliau selalu mengedar ke daerah-daerah dan
kota-kota negeri Islam ketika itu. Beliau belajar Hadits di negerinya dan
kemudian pergi ke Balkha, ke Marwa, ke Nisabur, ke Rai, ke Basrah, ke Kufah, ke
Makkah, ke Madinah, ke Mesir, ke Damaskus, ke Asqalan dan lain-lain.
Perjalanan beliau ini adalah dalam rangka
mencari ulama’-ulama’ yang menyimpan hadits dalam dadanya untuk dituliskannya
di dalam kitab yang ketika itu sangat kurang sekali. Kitab Sohih Bukhari itu
adalah kitab agama Islam yang kedua sesudah Al-Qur’an. Hadits-hadits di
dalamnya menjadi sumber hukum yang kuat dalam fiqih (hukum) Islam. Pada mulanya
beliau sampai menghafal hadits sebanyak 600,000 hadits yang diambilnya dari
1,080 orang guru, tetapi kemudian setelah disaring dan disaringnya lagi, maka
yang dituliskannya dalam kitab Sohih Bukhari hanya 7,275 hadits. Kalau
disatukan hadits yang berulang-ulang disebutnya dalam kitab itu, jadinya
berjumlah 4,000 hadits yang kesemuanya hadits sohih dan diterima oleh seluruh
dunia Islam, terkecuali oleh orang yang buta mata hatinya.
Di antara guru beliau dalam fiqih Syafi’i
adalah Imam Al-Humaidi, sahabat Imam Syafi’i yang belajar fiqih daripada Imam
Syafi’i ketika berada di Makkah Mukarramah.
Juga beliau belajar fiqih dan Hadits daripada
Za’farani, Abu Thur dan Al-Karabisi, ketiganya adalah murid Imam Syafi’i.
Demikianlah diterangkan oleh Imam Abu ‘Asim Al-Abbadi dalamkitab “Tobaqat”nya.
Beliau tidak banyak membicarakan soal fiqih, tetapi hampir semua pekerjaan
beliau berkisar kepada hadits-hadits saja yang tidak mengambil hukum dari
hadits-hadits itu. Ini suatu bukti bahawa beliau bukan Imam Mujtahid, tetapi
ahli hadits yang di dalam furu’ Syari’at beliau menganut Mazhab Syafi’i.
Di dalam kitab "Faidhu Qadir" syarah
Jamius Saghir pada juzu’ I halaman 24 diterangkan bahawa Imam Bukhari mengambil
fiqih daripada Al-Humaidi dan sahabat Imam Syafi’i yang lain. Imam Bukhari
tidak mengambil hadits daripada Imam Syafi’i kerana beliau meninggal dalam usia
muda, tetapi Imam Bukhari belajar dan mengambil hadits daripada murid-murid
Imam Syafi’i.
Tetapi sesungguhnya begitu, di dalam kitab Sahih
Bukhari ada dua kali Imam Syafi’i disebut, iaitu pada bab Rikaz yang lima dalam
kitab Zakat dan pada bab Tafsir ‘Araya dalam kitab Buyu’. (Lihat Fathul Bari
juzu’ IV, halaman 106 dan pada juzu’ V halaman 295)
- al-Imam az-Za'farani (w. 260 H)
Nama lengkap beliau adalah al-Imam Hasan bin
Muhammad as-Sabah az-Za’farani. Lahir didusun az-Za’farani dan pindah ke kota
Baghdad, disana beliau belajar kepada al-Imam Syafi’I Rahimahullah. Al-Imam
az-Za’farani adalah murid langsung dari Imam Syafi’i.
Imam Bukhari, seorang ahli hadits yang
terkenal banyak mengambil hadits dari al-Imam Za’farani namun beliau tidak
menjadi mujtahid Fiqh. Beliau tetap memegang madzhab Imam Syafi’i. Dari beliau
ini mengalir madzhab Imam Syafi’I kepada Imam Bukhari sehingga beliau menganut
madzhab imam Syafi’I dalam syariat dan Ibadah.
- al-Imam Muslim (w. 261 H)
Beliau adalah Al-Imam Abul Husain Muslim bin
al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, yang lebih dikenal dengan Imam Muslim.
Dilahirkan pada tahun 204 Hijriah dan meninggal dunia pada sore hari Ahad bulan
Rajab tahun 261 Hijriah dan dikuburkan di Naisaburi.
Beliau juga sudah belajar hadits sejak kecil
seperti Imam Bukhari dan pernah mendengar dari guru-guru Al Bukhari dan ulama
lain selain mereka. Orang yang menerima Hadits dari beliau ini, termasuk
tokoh-tokoh ulama pada masanya. Ia juga telah menyusun beberapa karangan yang
bermutu dan bermanfaat. Yang paling bermanfaat adalah kitab Shahihnya yang
dikenal dengan Shahih Muslim. Kitab ini disusun lebih sistematis dari Shahih
Bukhari. Kedua kitab hadits shahih ini; Shahih Bukhari dan Shahih Muslim biasa
disebut dengan Ash Shahihain. Kadua tokoh hadits ini biasa disebut Asy
Syaikhani atau Asy Syaikhaini, yang berarti dua orang tua yang maksudnya dua
tokoh ulama ahli Hadits. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin terdapat
istilah akhraja hu yang berarti mereka berdua meriwayatkannya.
Imam Muslim meninggalkan karya tulis yang tidak sedikit
jumlahnya, di antaranya :
§
Al-Jami` ash-Shahih
atau lebih dikenal sebagai Sahih Musli
§
Al-Musnad al-Kabir
(kitab yang menerangkan nama-nama para perawi hadits)
§
Kitab al-Asma wal-Kuna
§
Kitab al-Ilal
§
Kitab al-Aqran
§
Kitab Su`alatihi Ahmad
bin Hambal
§
Kitab al-Intifa` bi
Uhubis-Siba`
§
Kitab al-Muhadramin
§
Kitab Man Laisa Lahu
illa Rawin Wahid
§
Kitab
Auladish-Shahabah
§
Kitab
Auhamil-Muhadditsin
- al-Imam Ahmad bin Syayyar al-Marwazi (w. 268 H)
Nama lengkap beliau adalah Ahmad bin Syayyar
bin Ayub Abu Hasan Al-Marwazi. Beliau adalah murid dari Ishaq bin Rahuyah dan
Ulama’- ulama’ Syafi’i yang lain, ulama’-ulama’ seperti Nasa’i, Ibnu Khuzaimah,
Imam Bukhari dan lain-lain, mengambil ilmu kepada beliau. Syeikh Ahmad bin
Syayyar yang membawa dan memajukan Mazhab Syafi’i ke Marwin, ke Ghazanah di
India, ke Afghanistan dan lain-lain. Beliau adalah pengarang kitab “Tarikh
Marwin”.
- al-Imam ar-Rabi' ibn Sulaimanal-Muradi (w. 270 H)
Beliau adalah murid langsung dari Imam Syafi’i
Rahimahullah, dibawa dari Baghdad sampai ke Mesir. Lahir tahun 174 Hijriyah dan
wafat pada tahun 270 Hijriyah. Beliau inilah yang membantu Imam Syafi’I menulis
kitabnya al-Umm dan kitab ushul Fiqh pertama didunia yaitu kitab ar-Risalah
al-Jadidah.
Berkata Muhammad bin Hamdan, “saya datang ke
kediaman Rabi’I pada suatu hari, dimana didapati didepan rumahnya 700 kendaraan
membawa orang yang datang mempelajari kitab Syafi’i dari beliau”.
Ini merupakan bukti bahwa al-Imam ar-Rabi’I
ibnu Sulaiman al-Muradi adalah seorang yang utama, penyiar dan penyebar madzhab
Syafi’i dalam abad-abad yang pertama. Disebutkan dalam kitab al-Majmu’ halaman
70, kalau ada perkataan “sahabat kitab ar-Rabi’i" maka maksudnya ar-Rabi’i
Sulaiman al-Muradi. Didalam kitab al-Muhzab, tidak ada ar-Rabi’I selain
ar-Rabi’I ini, kecuali ar-Rabi’I dalam masalah menyamak kulit yang bukan
ar-Rabi’I ini melainkan ar-Rabi’I bin Sulaiman al-Jizi. (Beliau juga adalah
sahabat Imam Syafi’i).
- al-Imam Ibnu Majah (w. 275 H)
Nama beliau adalah Abu Abdullah Muhammad bin
Yazid bin Abdullah bin Majah Al Quzwaini . Ia dilahirkan pada tahun 207 Hijriah
dan meninggal pada hari selasa, delapan hari sebelum berakhirnya bulan Ramadhan
tahun 275. Ia menuntut ilmu hadits dari berbagai negara hingga beliau mendengar
hadits dari madzhab Maliki dan Al Laits. Sebaliknya banyak ulama yang menerima
hadits dari beliau. Ibnu Majah menyusun kitab Sunan Ibnu Majah dan kitab ini
sebelumnya tidak mempunyai tingkatan atau tidak termasuk dalam kelompok kutubus
sittah (lihat di bagian hadits) karena dalam kitabnya ini terdapat hadits yang
dlaif bahkan hadits munkar. Oleh karena itu para ulama memasukkan kitab Al
Muwaththa karya Imam Malik dalam kelompok perawi yang lima (Al Khamsah).
Menurut penyusun (Ibnu Hajar) ulama yang pertama kali mengelompokkan atau
memasukkan Ibnu Majah kedalam kelompok Al Khamsah itu adalah Abul Fadl bin
Thahir dalam kitabnya Al Athraf, kemudian Abdul Ghani dal kitabnya Asmaur Rijal.
- al-Imam Abu Daud (w. 276 H)
Nama lengkap beliau adalah Sulaimam bin
Asy’ats bin Ishak As-Sijistani , yang kemudian terkenal dengan Imam Abu Daud
saja. Beliau berasal dari Sijistan sebuah desa di India, lahir pada tahun 202H.
Seorang ulama’ ilmu hadits yang terkenal, yang kitabnya “Sunan Abu Daud”
termasuk kitab hadits yang enam, iaitu Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasa’i, Ibnu
Majah dan Tirmizi. Selain dari itu beliau adalah ahli fiqih Syafi’i, yang
dipelajarinya dari Ishaq Ibnu Rahuyah dan lain-lain ulama’ Syafi’iyah.
- al-Imam Abu Hatim ar-Razi (w. 277 H)
Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Idris
bin Munzir bin Daud bin Mihran. Abu Hatim Ar-Razi , lahir tahun 195H. beliau
adalah seorang Ulama’ Syafi’iyah yang besar, yang mengatakan bahawa beliau
telah berjalan kaki mencari hadits pada tingkat pertama sepanjang 1,000
farsakh. Beliau berjalan kaki dari Bahrin ke Mesir, ke Ramlah di Palestina, ke
Damaskus, ke Intakiah, ke Tarsus, kemudian kembali ke Iraq dalam usia 20 tahun.
Di antara guru beliau dalam fiqih ialah Yunus bin ‘Abdul A’ala , iaitu
sahabat-sahabat Imam Syafi’iyah.
- al-Imam ad-Darimi (w. 280 H)
Nama lengkap beliau adalah ‘Utsman bin Sa’id
bin Khalid bin Sa’id As-Sijistani Al-Hafiz Abu Sa’ad Ad-Darimi. Beliau seorang
ahli hadits yang terkenal dan juga ahli fiqih Syafi’i. Beliau belajar fiqih
daripada sahabat-sahabat Imam Syafi’i yaitu Al-Buwaiti dan juga daripada Ishak
bin Rahuyah. Beliau mengarang kitab hadits besar bernama “Musnad Darimi” dan
juga mengarang kitab untuk menolak Bisyir Al-Marisi, Imam Mu’tazilah.
- Imam Abu Ja'far at-Tirmidzi (w. 295 H)
Nama lengkap beliau ini adalah Muhammad bin
Ahmad bin Nasar, Abu Ja’far At-Tirmizi . Beliau adalah seorang Ulama’ Besar
Syafi’iyah di Iraq sebelum masanya Ibnu Surej. Beliau mengarang sebuah kitab
dengan judul “Kitab Ikhtilaf Ahlis Salat” dalam usuluddin.
- al-Imam Junaid al-Baghdadi (w. 298 H)
Nama lengkap beliau, ‘Abdul Qasim Junaid bin
Muhammad bin Junaid Al-Baghdadi. Beliau adalah seorang ahli tasawuf besar yang
sampai sekarang masyhur namanya dalam dunia Islam. Beliau belajar ilmu fiqih
daripada Abu Thur Al-Kalibi (murid Imam Syafi’i ) dan dalam usia 20 tahun sudah
berfatwa.
KURUN KE-EMPAT HIJRIYAH
§ al-Imam an-Nasa'i (w. 303 H)
§ al-Imam at-Thabari (w. 305 H)
§ al-Imam Ibnu Surej (w. 306 H)
§ al-Imam 'Abdullah bin Muhammad Ziyad an-Nisaburi (w. 324 H)
§ al-Imam Ibnu Qasi (w. 335 H)
§ al-Imam as-Su'luki (w. 337 H)
§ al-Imam al-Asy'ari (w. 324 H)
§ al-Imam Abu Ishaq al-Marwazi (w.340 H)
§ al-Imam Ibnu Abi Hurairah (w. 345 H)
§ al-Imam al-Mus'udi (w. 346 H)
§ al-Imam Abu Saib al-Marwazi (w. 362 H)
§ al-Imam Abu Hamid sl-Marwazi (w. 362 H)
§ al-Imam as-Sijistani (w. 363 H)
§ al-Imam al-Qaffal al-Kabiir (w. 365 H)
§ al-Imam ad-Dariki (w. 375 H)
§ al-Imam Ibnu Abi Hatim (w. 381 H)
§ al-Imam al-Daruquthni (w. 385 H)
§
al-Imam al-Jurjani (w.
393 H)
KURUN KE-LIMA HIJRIYAH
§ al-Imam al-Baqilani (w. 403 H)
§ al-Imam Hakim [Hakim al-Naisaburi] (w. 405 H)
§ al-Imam al-Asfaraini (w. 406 H)
§ al-Imam as-Sinji (w. 406 H)
§ al-Imam Ibnu Mahamili (w. 415 H)
§ al-Imam ats-Tsa'labi (w. 427 H)
§ al-Imam al-Mawardi (w. 450 H)
§ al-Imam al-Baihaqi (w. 458H)
§ al-Imam al-Haramain (w. 460H)
§ al-Imam al-Qusyairi (w. 465H)
§ al-Imam asy-Syirazi (w. 476 H)
§ al-Imam al-'Aziz (w. 494 H)
§
al-Imam at-Thabari (w.
495 H)
KURUN KE-ENAM HIJRIYAH
§ al-Imam al-Kayahirasi (w. 504 H)
§ al-Imam al-Ghazali (w. 505 H)
§ al-Imam Abu Bakar asy-Syasyi al-Qaffal (w. 507 H)
§ al-Imam al-Baghawi (w. 510 H)
§ al-Imam Syahrastani (w. 548 H)
§ al-Imam Abul Husain Yahya al-Amrani al-Yamani (w. 558 H)
§
al-Imam Syihabuddin
Abu Syuja' (w. 593 H)
KURUN KE-TUJUH HIJRIYAH
§ al-Imam 'Izzuddin bin 'Abdissalam (w. 606 H)
§ al-Imam ar-Razi (wafat 606 H)
§ al-Imam Ibnu Atsir (w. 606 H)
§ al-Imam Ibnu Shalah (w. 643 H)
§ al-Imam ar-Rafi'i (w. 623 H)
§ al-Imam an-Nawawi (w. 676 H)
KURUN KE-DELAPAN HIJRIYAH
§ al-Imam Taqiyuddin Ibnu Daqiqil 'Id (w. 702 H)
§ al-Imam Zamlukani (w. 727 H)
§ al-Imam Taqiyuddin as-Subki (w. 756 H)
§ al-Imam Tajuddin Subki (w. 771 H)
§ al-Imam Ibnu Katsir (w. 774 H)
§ al-Imam Zarkasyi (w. 794 H)
KURUN KE-SEMBILAN HIJRIYAH
§ al-Imam al-Mahalli (w. 835 H)
§ al-Imam Ibnu Mulaqin (w. 804 H)
§ al-Imam Ibnu Ruslan (w. 844 H)
§ al-Imam Ibnu Hajar al-'Asqalani (w. 852 H)
§ al-Imam al-Husaini al-Hishni (w. 829 H)
§
al-Imam Syamsuddin
Muhammad bin Ahmad al-Manhaji al-Qahari (w. 880 H)
KURUN KE-SEPULUH HIJRIYAH
§ al-Imam as-Suyuthi (w. 911 H)
§ al-Imam Abdullah bin Abdurramah Bafadlal al-Hadlrami (w. 918 H)
§ al-Imam Qasthalani (w. 923 H)
§ al-Imam Zakaria al-Anshari (w. 926 H)
§ al-Imam al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H)
§ al-Imam Khatib Syarbaini (w. 977 H)
§ al-'Allamah Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari (w. 987 H)
§ al-Imam Ahmad 'Umairah (w. 957 H)
KURUN KE-SEBELAS HIJRIYAH
§ al-Imam ar-Ramli (w. 1004 H)
§ al-Imam ar-Raniri (w. 1068 H)
§ al-Imam Ahmad Salamah al-Qalyubi (w. 1069 H)
§
Imam-Imam lainnya pada
abad ini sebenarnya banyak.
KURUN KE-DUA BELAS HIJRIYAH
§ al-Habib 'Abdullah ibn 'Alwi al-Haddad (w. 1132 H)
§
Syaikh Sayyid Ja'far
al-Barzanji (W. 1184 H)
KURUN KE-TIGA BELAS HIJRIYAH
§ al-Imam asy-Syarqawi (w. 1227 H)
§ al-Imam al-'Allamah Syaikh Sulaiman al-Jumal (w. 1204 H)
§ al-Imam al-Bujairami al-Mishri (w. 1221 H)
§ Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari (w. 1227 H)
§ Syaikh asy-Syanwani (w. 1233H)
§ Syaikh Abdus Samad al-Falembani/Palembang
§ Syaikh Daud 'Abdullah al-Fathani (w. 1265 H)
§
al-Imam Al-Bajuri (w.
1276 H)
KURUN KE-EMPAT BELAS HIJRIYAH
§ Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Mufti Makkah (w. 1304 H)
§ Syaikh al-Bakri Syatha ad-Dimyathi (w. 1302 H)
§ Syaikh an-Nawawi al-Bantani al-Jawi (W. 1316 H)
§ Syaikh Muhammad Khalil al-Maduri [Bangkalan]
§ Syaikh Wan Ali Kutan (w. 1331 H)
§ Syaikh Utsman Betawi (w. 1333 H)
§ Syaikh Ahmad Khatib (w. 1334 H)
§ Syaikh Utsman Senik (w. 1336 H)
§ al-'Allamah az-Zuhri al-Ghamrawi (w. 1337 H)
§ Syaikh Utsman as-Saraqawi (w. 1339 H)
§ Syaikh Muhammad Sa'ad (w. 1339 H)
§ Syaikh Muhammad Sa'id al-Linggi (w. 1345 H)
§ Syaikh Yusuf Bin Isma'il al-Nabhani (w. 1350 H)
§ Syaikh Muhammad Shaleh al-Minankabawi (w.1351 H)
§ Syaikh Wan Sulaiman (w. 1354 H)
§ Syaikh Hasan Ma'sum (w. 1355 H)
§ Syaikh Abu Bakar Muar (w. 1357 H)
§ Syaikh Abdul Latif at-Tanbi (w. 1358 H)
§ Imam Ya'qub al-Kalantani (w. 1360 H)
§ Syaikh Muhammad Jamil Jaho (w. 1360 H)
§ Syaikh Muhammad Shaleh Kedah
§ Syaikh Hasyim Asy'ari (w. 1367 H)
§ Syaikh Abdul Mubin al-Jarimi al-Fathani (w. 1367 H)
§ Syaikh Abdul Wahid (w. 1369 H)
§ Syaikh Muhammad Fadlil Banten (w. ? H)
§ Syaikh Mustafa Husein (w. 1370 H)
§ Syaikh Abbas Qadi (w. 1370 H)
§ Syaikh Tahir Jalaluddin al-Azhari (w. 1376 H)
§ Syaikh Tengku Mahmud az-Zuhdi (w. 1376 H)
§ Syaikh Abdullah Fahim (w. ? H)
§ Syaikh Muda Wali (w. 1380 H)
§ Syaikh Abdurrahman al-Kalantani (w. 1391 H)
§ Syaikh Ismail al-Asyi (w. ? H)
§ Syaikh Ihsan Dahlan al-Jampesi'
§ Syaikh Zainal Abidin bin Muhammad al-Fathani (w. ? H)
KURUN KE-LIMA BElAS HIJRIYAH
§ Syaikh [KH.] Sirajuddin 'Abbas (w. 1400 H)
§ Syaikh Muhammad Idris al-Marbawi (W. 1409 H)
§ Mufti Haji Ismail Omar (w. 1413 H)
§ Syaikh' [Kiyai] Shamsuddin (w. 1418 H)
§ K.H.M. Syafi'i Hadzami (w. 1427 H)
§ Syaikh Muhammad Fuad al-Maliki
§ Syaikh Nuh 'Ali Salman al-Qudah (w. 1432 H)
§ Syaikh Ahmad Sahl al-Hajini
§ Syaikh Mushthafa al-Khin
§
Syaikh Mushthafa
al-Bugha
Dan masih banyak lagi yang mungkin terlewatkan
untuk kami sebutkan, pada kurun-kurun terakhir kebanyakan hanya disebutkan
ulama besar yang berasal dari Nusantara, belum lagi di wilayah lainnya.
Disarikan dari buku "SEJARAH DAN
KEAGUNGAN MADZHAB SYAFI'I (Oleh KH. Sirajuddin Abbas)" dan dari berbagai
sumber. Masih banyak ulama-ulama bermadzhab Syafi'iyyah yang tidak mungkin bisa
kami sebutkan disini. Jika banyak berinteraksi kitab-kitab Ulama niscaya akan
menjumpai ribuan ulama lainnya.
§ Ad-Dimasyqiy asy-Syafi’i (‘Ulama Syafi’iyyah Damaskus).
§ al-Imam al-Muhaddits al-Bukhariy Bermadzhab Syafi'iyyah
Informasi lain tentang ulama-ulama Syafi'iyah
bisa dibaca dalam kitab-kitab seperti Thabaqat al-Fuqahaa' asy-Syafi'iyah karya
al-Imam al-Hafidz Ibnu Katsir asy-Syafi'i, Thabaqat al-Syafi'iyah al-Kubraa
karya al-Imam Tajuddin as-Subki, Thabaqat al-Syafi'iyah karya Ibnu Qadli
Syuhbah, Thabaqat al-Syafi'iyah karya Jamaluddin Abdur Rahim bin al-Hasan
al-Asnawi dan lain sebagainya.
Sumber
:
-
https://almanar.wordpress.com/2010/05/05/sanad-fiqih-imam-as
syafi%E2%80%99i/
-
https://www.facebook.com/notes/pondok-pesantren-an-nabawi-bogor/para-ulama-bermadzhab-syafiiyah-sejak-masa-imam-syafii-hingga-abad-ini/10150114138123036/
0 komentar:
Posting Komentar